Cita-Cita Ibnu Umar dan Tiga Sahabatnya Disaksikan Hijr Ismail

Hikmah  
Foto Kabah. Dok Republika
Foto Kabah. Dok Republika

Sejarah dalam Islam bukan hanya sekadar tumpukan angka-angka, nama-nama tokoh, kejadian, dan data-data belaka. Sejarah memiliki kedudukan penting dalam tradisi Islam. Bahkan Alquran yang menjadi sumber utama Ilmu dalam Islam berisi sejarah dengan porsi yang cukup besar. Sepertiga dari kalamullah tersebut berisi mengenai kisah-kisah umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW.

Keistimewaan sejarah dalam Islam dikarnakan sejarah dianggap memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan manusia. Salah satunya adalah sebagai pelajaran untuk kaum setelahnya. Sebagaimana yang telah termaktub dalam Surah Yusuf Ayat 111.

Selain mengambil pelajaran dari kisah-kisah yang diwahyukan Allah, seorang Muslim juga harus bisa mengambil pelajaran dari sejarah yang berasal bukan dari wahyu, seperti sejarah yang dialami Nabi Muhammad, sahabat, umat-umat setelahnya, dan seterusnya. Hal itu termasuk dari sikap Qur’ani.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Salah satu kisah yang tidak diwahyukan dan kita bisa mengambil pelajaran berharga adalah kisah tentang tiga anak dari sahabat Zubair bin ‘Awwam dan satu anak dari Umar bin Khattab. Mereka adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, dan Mus’ab bin Zubair.

Dikisahkan Imam Adz-Dhahabi dalam kitabnya yang terkenal 'Siyar Alam An-Nubala' bahwa keempat orang tersebut pernah mengadakan sebuah majelis di dekat Kabah, tepatnya di tempat yang ditandai dengan tembok pendek setengah lingakaran dinamai Hijr Ismail. Majelis yang mereka adakan terbilang unik. Pasalanya, mereka memulai majelis dengan kata 'Tamannau', bercita-citalah.

Baca juga: Sejarah Pembuatan Quran Pusaka Republik Indonesia

Majelis cita-cita itu dimulai oleh Abdullah bin Zubair. Cucu Abu Bakar As-Siddiq yang lahir di Madinah saat kaum Muhajirin baru berhijrah. Dia memiliki harapan berhubungan dengan kekuasaan politik. Tidak tanggung-tanggung, dia ingin menjadi seorang khalifah. “Saya ingin kekhilafahan,” begitu yang kira-kira Abdullah bin Zubair katakan.

Disusul oleh adiknya Urwah yang ingin menjadi seorang ulama, di mana nanti banyak orang bisa mengambil ilmu darinya. Urwah berkata, “Saya ingin Ilmu diambil dari saya."

Sementara, Mus’ab memiliki keinginan sebagaimana keinginan Abdullah, yakni kekuasaan politik. Bedanya, dia tidak berharap seperti kakaknya yang ingin menguasai kekhilafahan, tapi dia ingin menjadi Amir di Iraq sekaligus dapat menikahi dua anak yang cerdas dan cantik di zamannya, yaitu Aisyah binti Thalhah dan Sukaina binti Husain.

Setelah ketiga anak Zubair mengungkapkan cita-cita mereka, tibalah giliran Abdullah bin Umar. Keinginan anak Umar bin Khattab ini sedikit berbeda dengan ketiga rekannya. Dia tidak mengharapkan kekuasaan apalagi dapat menikahi wanita pujaannya, dia juga tidak ingin menjadi seorang yang berilmu. Meskipun pada akhirnya dia terkenal sebagai seorang ulama hadits.

Abdullah bin Umar berkata, “Saya ingin Allah mengampuni saya.”

Bertahun-tahun setelah majelis tersebut diadakan, ternyata Allah membuat mereka sampai pada cita-cita yang disaksikan Hijr Ismail. Abdullah bin Zubair tercatat dalam sejarah pernah menjadi khalifah selama sembilan tahun.

Mus’ab yang bercita-cita menguasai Iraq, kemudian tercatat pernah menguasai dan menjadi gubernur di wilayah sana saat Abdullah bin Zubair menjadi khalifah. Bahkan Muh’ab juga berhasil menikahi dua wanita yang dia sebut-sebut namanya tatkala di Majelis Cita-Cita.

Baca juga: Jari Jawa Raja Muslim Pertama di Ende NTT

Sementara Urwah sebagaimana telah umum diketahui saat ini, dia adalah sosok yang banyak meriwayatkan hadits dari bibinya Aisyah. Urwah betul-betul menjadi ulama, dan umat Islam banyak mengambil Ilmu darinya.

Adapaun cita-cita Abdullah bin Umar yang ingin diampuni Allah, tentu masih bersifat ghaib. Mengenai hal itu, hanya Allah yang mengetahui. Kendati demikian, Imam Adz-Dhahabi berkeyakinan bahwa Allah akan mengampuni Ibnu Umar sebagaimana yang telah dia cita-citakan di Hijr Ismail. Harapan Ibnu Umar terkabul seperti terkabulnya cita-cita ketiga rekannya.

Berusaha Adalah Kunci

Dari kisah di atas, siapa saja bisa mengambil pelajaran dari sudut manapun. Seperti halnya pelajaran mengenai cita-cita. Ungkapan terkenal dari Presiden Soekarno, "Bermimpilah setinggi langit." Nampaknya ini sudah jauh diterapkan oleh empat orang di atas sebelum Soekarno lahir di dunia ini.

Sebagai seorang manusia, kita sudah semestinya memiliki cita-cita besar dalam hidup. Cita-cita adalah layaknya tujuan, sementara hidup adalah perjalanannya. Hidup yang tidak memiliki cita-cita pantas dikatakan perjalanan tanpa tujuan. Sementara perjalanan tanpa tujuan akan kehilangan arah, menimbulkan tindakan yang tidak diperhitungkan, hingga akhirnya tinggal menunggu kekacauan dan kehancuran.

Baca juga: Jejak Bangsawan Muslim di Era Kerajaan Majapahit

Kendati demikian, bercita-cita bukan sekadar berharap tanpa sebuah tindakan. Sebagai seorang yang berakal tentu akan mempersiapkan bekal, berusaha, dan beramal agar tujuan tercapai. Tidak pasrah kepada takdir yang masih rahasia Allah dan kita tidak punya pengetahuan akan hal itu. Mengenai hal ini, ada kisah dari hadits Nabi Muhammad SAW yang menarik disimak.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang dan berkata, "Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini? Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?"

Nabi Muhammad SAW menjawab, "Bahkan pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa gunanya beramal?”

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya)." (HR. Muslim, no. 2648).

Penulis : Tb. Moch Nizar Malisi

Editor : Fuji E Permana

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image