Dongeng Sunda: Kisah Dukun, Pandita, Wali dan Ular Naga

Budaya  
Ornamen kepala Perahu Naga mengadopsi desain kepala naga dari budaya lokal mengunakan ukiran tokoh pewayangan di Festival Cisadane, Kota Tangerang, 2019. (Foto : Putra M Akbar/Republika)
Ornamen kepala Perahu Naga mengadopsi desain kepala naga dari budaya lokal mengunakan ukiran tokoh pewayangan di Festival Cisadane, Kota Tangerang, 2019. (Foto : Putra M Akbar/Republika)

Dikisahkan, suatu ketika di sebuah negeri atau kerajaan, ada seorang raja yang sakti waspada permana tinggal, dan weruh sak durunge winarah.

Raja tersebut memanggil patihnya, sang patih pun menghadap sang raja sakti waspada permana tinggal. Kemudian sang raja menyampaikan maksudnya kepada sang patih.

Kepada sang patih, raja berkata, "Ingin menguji rakyatnya di negeri ini."

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

"Berdasarkan isu yang tersebar, di negeri ini ada seorang dukun yang sangat terkenal sampai ke pelosok negeri ini," kata sang raja.

Sang patih pun ditugaskan oleh raja untuk memanggil dukun sakti mandraguna tersebut. Supaya sang raja bisa bertemu sang dukun yang terkenal kesaktiannya sampai pelosok negeri.

Tugas Rahasia Patih

Tapi, sebelum sang patih pergi mencari dan menjemput mbah dukun. Patih tersebut ditugaskan membuat kolam di dalam lingkungan istana kerajaan.

Pembuatan kolam ini adalah misi rahasia dari sang raja sakti, hanya boleh dikerjakan di malam hari secara diam-diam.

Baca juga: Belajar Ajaran Islam Dari Wayang Golek

Setelah kolam selesai dibuat, dilepaskan tiga ekor angsa ke dalam kolam tersebut. Kemudian, di sekitar kolam ditanami pepohonan yang rimbun dan merambat agar kolamnya tertutup rapat. Sehingga kolam tersebut benar-benar tidak terlihat oleh siapapun, hanya terdengar suara angsa tanpa terlihat angsanya.

Sang Dukun

Kemudian sang patih menjalan tugasnya mencari sang dukun sakti. Singkat cerita, sang patih sudah bertemu mbah dukun sakti yang mudah dicari karena ketenarannya.

Mbah dukun sangat kaget karena tamunya kali ini adalah sang patih utusan raja. Sang patih tanpa basa-basi menyampaikan bahwa mbah dukun harus segera berangkat ke istana kerajaan untuk menemui sang raja.

Mbah dukun tambah kaget, karena mengetahui sang raja adalah raja yang sangat berwibawa.

Namun, patih kerajaan meyakinkan agar mbah dukun tidak perlu panik, karena raja ingin bertemu untuk menyampaikan terimakasih dan hadiah. Sebab, berdasarkan isu yang beredar, mbah dukun sering membantu menyembuhkan orang-orang yang sakit.

Mbah dukun mendengar berita tersebut langsung bahagia dan bersemangat.

Singkat cerita, mbah dukun sudah sampai ke istana kerajaan bersama sang patih. Mbah dukun sudah sampai di hadapan sang raja.

Sang raja berkata, "Kemarilah mbah dukun, datang mendekat ke hadapan saya karena kamu adalah rakyat saya, kita adalah manusia sama rata dan setara di mata Allah SWT."

Singkat cerita, sang raja menceritakan kepada mbah dukun bahwa ia tidak bisa nyaman tidur setiap malam. Penyebabnya karena di dalam sebuah taman yang rimbun, ada suara aneh yang membuat istana ini menjadi bergetar.

Sang dukun bahagia mendapatkan kepercayaan dari sang raja.

Mbah dukun berkata, "Untuk mengatasi persoalan ini tidak bisa sembarangan, harus pakai sesaji yang komplet. Di antaranya, bubur putih, bubur merah, bakakak ayam, dan lain-lain."

"Sediakan juga kain putih, kain merah, kain kuning, kain hitam karena dalam kepercayaan saya ini simbol amarah, lawwamah, sawiyah, dan muthmainnah," ujar mbah dukun.

"Di taman ini harus mengubur kepala domba, kemudian sesaji berupa bakakak ayam dan lain-lainnya harus disedekahkan kepada saya (mbah dukun)," jelas mbah dukun kepada sang raja.

Baca juga: Di Sunda Ada Aturan Adat Melarang Mengotori Bumi

Sang raja menahan tawanya dengan sikap sang dukun. Namun, raja adalah orang yang bijaksana. Dukun tersebut tetap dihormati oleh sang raja agar tidak sakit hati. Meskipun sebenarnya sang raja tahu di dalam taman yang rimbun ada kolam dan tiga ekor angsa.

Sang dukun pun pulang ke rumah dengan riang gembira, karena mendapatkan harta kekayan dari sang raja.

Sang Pandita

Setelah mbah dukun pulang, sang raja menugaskan kembali sang patih untuk mencari dan membawa seorang pandita atau pertapa yang terkenal di negeri ini.

Singkat cerita, sang patih sudah menemukan pandita. Sang patih datang dengan cara yang santun dan mengucapkan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sang pandita menjawab Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Patih menjelaskan maksud dan tujuannya secara gamblang. Namun, pandita adalah orang yang tenang dan waspada.

Pandita dengan tenang berjalan bersama patih menuju istana kerajaan untuk bertemu sang raja. Singkat cerita, sang pandita sudah berada di hadapan sang raja.

Kepada pandita, raja mengatakan, "Setiap malam tidak bisa tidur karena setiap malam dari dalam taman yang rimbun ada suara yang aneh."

Kemudian, sang pandita langsung berkonsentrasi sambil duduk sila dengan nyaman. Tidak lama setelah itu, sang pandita tersenyum.

Raja berkata, "Suara apa yang keluar dari taman yang rimbun itu?"

Pandita menjawab, "Suara yang sering keluar dari taman yang rimbun itu adalah suara angsa, angsa itu ada tiga ekor."

Sang raja bahagia mendengar jawaban sang pandita, karena di antara rakyatnya ada seorang pandita waspada permana tinggal.

Sang raja berterimakasih kepada pandita. Raja memberi hadiah harta kekayaan kepada sang pandita.

Baca juga: Mengkaji Makna Spiritual Pada Tokoh Semar Dalam Wayang

Namun, sang pandita menolaknya dan mengatakan, "Saya bukan orang komersil yang orientasinya harta kekayaan."

"Silahkan harta dan kekayan itu berikan kepada orang miskin, karena di negeri ini masih banyak orang miskin, anak yatim, dan janda jompo yang perlu dibantu," kata sang pandita kepada sang raja.

Sang Wali

Setelah pandita pergi meninggalkan istana. Sang raja menugaskan lagi patihnya untuk memanggil orang yang dianggap wali oleh masyarakat.

Raja mengatakan, "Di negeri ini isunya ada orang yang dianggap sudah sampai ke level wali oleh masyarakat, mari kita uji kemampuannya."

Sang patih pun segera berangkat untuk menjemput orang yang dianggap wali tersebut. Singkat cerita, sang patih sudah membawa wali kehadapan sang raja.

Dengan sopan dan santun, sang wali menanyakan maksud raja memanggilnya.

Raja menjawab, "Alasan saya memanggil kamu karena setiap malam tidak bisa tidur nyenyak, akibat di tengah taman yang rimbun ada suara aneh yang berbunyi, bahkan sampai membuat istana bergetar, apa penyebabnya?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang wali tidak kaget, bahkan tidak menunjukan ekspresi apapun, sang wali biasa saja. Sang wali tidak menunjukan rasa takut dan rasa berani dalam menjalani kehidupan di dunia.

Wali menjawab, "Suara yang keluar dari taman yang rimbun itu karena di dalam taman itu ada ular besar atau naga."

Mendengar jawaban itu, raja menahan tawanya. Raja kaget karena orang yang dianggap wali tapi memberikan jawaban yang tidak masuk akal. Padahal di dalam taman itu hanya ada tiga ekor angsa yang disimpan olehnya dan patihnya.

"Mana mungkin ada ular naga di dalam taman yang rimbun ini?" kata sang raja kepada sang wali.

Namun sang wali tetap tenang menghadapi pertanyaan sang raja. Tetap teguh dengan keyakinannya.

Raja bertanya lagi karena ragu, "Apakah benar di dalam taman ada ular besar?"

Sang wali dengan tenang menjawab, "Kalau tidak percaya, bongkar saja pohon yang rimbun di taman itu agar terlihat ada tiga ekor naga di sana."

Sang patih pun ingin tertawa mendengar jawaban sang wali.

Ketika sang raja dan patih membongkar tanaman rimbun yang menutupi kolam itu, ternyata tiga angsa yang disimpannya di sana berubah menjadi tiga ular besar.

Sang raja dan sang patih kaget bukan kepalang melihat tiga ekor ular besar, sementara tiga ekor angsa yang disimpan mereka di sana hilang.

Langsung saja, sang raja dan sang patih duduk merendahkan diri di hadapan sang wali. Raja dan patih bagai anak bertemu dengan bapaknya yang sangat dihormati yakni sang wali.

Baca juga: Filosofi Semar dan Kisah Umar bin Khattab

Sang raja meminta maaf kepada sang wali. Kemudian mengajak wali untuk makan-makan di istana kerajaan.

Namun sang wali menjawab, "Saya tidak suka makan."

Setelah kejadian itu, sang raja menitipkan kerajaan kepada sang patih. Raja berpesan agar patih menjalankan kewajiban raja termasuk mengurus rakyatnya.

Raja bermaksud meninggalkan kerajaan untuk sementara waktu, karena sang raja akan berguru ilmu kepada sang pandita dan sang wali.

Raja mengatakan, "Akan berguru kepada wali, kemudian ke pandita. Karena waspada ada di pandita, (saciduh metu saucap nyata) ucapan yang menjadi nyata ada di wali."

"Pandita tidak tahu ada angsa tiga ekor di dalam taman tapi pandita bisa tahu di dalamnya ada tiga ekor angsa, yakin pandita waspada permana tinggal," ujar sang raja.

"Wali mengatakan di dalam taman ada ular, kemudian tiga ekor angsa benar-benar menjadi ular, (saciduh metu saucap nyata) ucapan wali menjadi kenyataan, yakin ucapan wali sangat tajam dan bisa menjadi kenyataan," jelas sang raja.

"Kalau mbah dukun, itu komersil hanya ingin terpenuhi kebutuhannya, ini dukun yang ada di negara (dongeng) ini ya, bukan dukun yang lain," kata sang raja.

Sumber: Dongeng ini dirangkum dari Si Cepot Papantunan tentang "Soang Jadi Naga" oleh Almarhum Dalang Asep Sunandar Sunarya yang cerita pantunnya tersebar di Youtube. Semoga almarhum Abah Asep Sunandar Sunarya senantiasa mendapat kebahagiaan di alam sana dari Allah SWT. Aamiin.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image