Belajar Ajaran Islam Dari Wayang Golek

Budaya  
Foto ilustrasi pagelaran wayang golek. Dok: Republika
Foto ilustrasi pagelaran wayang golek. Dok: Republika

Wayang golek adalah seni pertunjukan tradisional yang berkembang di tatar Sunda. Lakon dalam pagelaran wayang golek dasarnya diadopsi dari kisah Mahabharata dan Ramayana yang telah diperkaya oleh para seniman atau dalang.

Tujuan para dalang memperkaya kisah Mahabharata dan Ramayana untuk tujuan kebaikan dan dakwah agama Islam. Sebab wayang golek maupun wayang kulit memang sejak awal berfungsi sebagai media dakwah di tengah masyarakat. Konon katanya wayang diciptakan seorang wali untuk mengenalkan dan menyebarkan agama Islam.

Sampai sekarang pun pagelaran wayang golek selalu menceritakan kebaikan dan kebenaran selalu menang melawan kejahatan. Bahkan para dalang sering memberikan nasihat dan ajakan kepada para penonton untuk semakin beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Misalnya pagelaran wayang golek yang pernah dibawakan para dalang legendaris seperti Almarhum Abah Asep Sunandar Sunarya, Abah Cecep Supriadi, Abah Dede Amung Sutarya dan lain sebagainya. Dalam semua pagelaran wayang golek yang dibawakan mereka, selalu saja ada dakwah yang mengajak penonton melakukan kebaikan dan kebenaran sebagaimana yang diajarkan agama Islam.

Baca juga: Di Sunda Ada Aturan Adat Melarang Mengotori Bumi

Dalang-dalang generasi sekarang pun tentu sama, tidak akan menghilangkan unsur dakwah. Cara mereka tetap sama seperti para pendahulunya, yaitu mengajak penonton melakukan kebaikan dan kebenaran sebagaimana ajaran Islam.

Yudhistira

Salah satu contoh dalang mengajarkan kebaikan dan kebenaran sesuai dengan ajaran Islam melalui salah satu tokoh dalam pagelaran wayang golek bernama Yudhistira atau Dharama Kusuma atau Puntadewa. Yudhistira adalah kakak tertua dalam Pandawa Lima.

Semua penonton dan penikmat seni wayang golek tahu pasti bahwa Yudhistira adalah karakter yang jujur sejak kecil sampai akhir hidupnya. Yudhistira dalam kondisi dan situasi apapun tidak bisa berbohong, bahkan kepada musuh sekalipun.

Seriang kali dalam beberapa cerita yang mengisahkan Yudhistira, dia tidak bisa berbohong kepada musuh. Musuh bertanya apapun dijawabnya dengan jujur.

Memang ada kisah dalam pagelaran wayang golek yang membuat Yudhistira tidak berkata jujur. Dikisahkan selama hidupnya, hanya pada saat itu Yudhistira terpaksa tidak jujur demi kemenangan Pandawa simbol kebenaran melawan Kurawa simbol kejahatan dalam perang Bharatayuddha.

Baja juga: Filosofi Semar dan Kisah Umar bin Khattab

Itu pun awalnya Yudhistira menolak untuk berbohong, namun Bhatara Krishna mendesak Yudhistira untuk sekali itu saja berkata bohong demi kemenangan kebenaran melawan kejahatan. Setelah itu, Yudhistira sangat menyesali perbuatannya dan bersedih meski hanya berbohong satu kalimat kepada musuhnya.

Al-Amin dan As-Saadiq

Terkait sifat kejujuran ini, sangat jelas diajarkan dalam agama Islam. Nabi Muhammad SAW adalah manusia jujur yang tidak pernah berbohong, beliau pun mengajarkan kejujuran kepada umat manusia.

Nabi Muhammad SAW mendapat julukan Al-Amin artinya orang yang dapat dipercaya, dan As-Saadiq artinya yang benar.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya kejujuran itu adalah kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan sesungguhnya dusta itu adalah kejahatan. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan menggiring ke neraka. Seseorang yang memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah." (HR Muslim)

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung. (QS Al-Ahzab: 70-71)

Pada ayat ini Allah menyeru orang-orang beriman untuk berkata benar atau jujur.

Mengajarkan Kejujuran

Melalui pagelaran wayang golek, penonton diajak melihat Yudhistira sebagai seorang kesatria yang jujur dan baik. Selalu menegakan kebenaran dan keadilan.

Lewat pertunjukan wayang golek yang mempertontonkan tokoh yang selalu menegakan kejujuran, kebaikan, kebenaran dan keadilan ini penonton diajak untuk meneladani sifat-sifat tersebut. Agama Islam juga mengajarkan umat manusia untuk menegakan kejujuran, kebaikan, kebenaran dan keadilan.

Baca juga: Mengkaji Makna Spiritual Pada Tokoh Semar Dalam Wayang

Media dakwah berbeda-beda, mungkin ada orang yang cocok diajari menegakan kejujuran lewat pagelaran wayang golek. Ada juga yang cocok diajari menegakan kejujuran lewat pengajian atau ceramah para ahli agama. Namun yang pasti keduanya sama-sama mengajarkan menegakan kejujuran sebagaimana yang diajarkan agama Islam.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image