Naskah Keagamaan Dari Masa Lalu Gambarkan Kerendahan Hati Penulisnya

Sejarah  
Manuskrip Cirebon terbuat dari daluwang, koleksi Elang Panji Jaya.
Manuskrip Cirebon terbuat dari daluwang, koleksi Elang Panji Jaya.

Cirebon yang namanya melekat dengan Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati banyak melahirkan kaum intelektual dan ulama di masa lalu. Kemajuan Kesultanan Cirebon di berbagai bidang telah mendorong penduduknya ke level yang lebih atas. Karenanya, Cirebon banyak meninggalkan manuskrip-manuskrip keagamaan.

Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Cirebon menyampaikan, jumlah naskah keagamaan begitu melimpah di Cirebon. Seperti naskah tauhid, fikih, tasawuf, Alquran, hadis dan kitab tauhid.

Naskah-naskah tersebut ditulis dengan bahasa Arab, Jawa, Melayu dan Sunda. Naskah tersebut menggunakan aksara Jawa, Arab, Jawi dan Pegon, sementara alas tulis yang digunakan yaitu kertas eropa, daluwang, lontar dan kertas bergaris. Tapi kebanyakan naskah ditulis dengan bahasa Jawa dan aksara yang digunakan Pegon dan Jawa.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Cirebon, Nurhata pernah diwawancarai Republika di Bogor pada Selasa (25/6/2019) untuk dipublikasikan di halaman Mozaik Koran Republika pada Senin (1/7/2019). Dalam wawancara tersebut, Nurhata menjelaskan, meski ada ribuan naskah keagamaan di Cirebon, sebagian besar naskah tidak menyebutkan nama penulis dan waktu penulisannya. Karena kerendahan hati para penulis naskah keagamaan, mereka tidak menganggap dirinya penting untuk diketahui publik.

"Nama diri sang penyalin atau penulis naskah pada umumnya tidak disebutkan dalam naskah, ini terkait semacam suatu konvensi bahwa nama diri penulis tidak begitu urgen dalam suatu karya," kata Nurhata.

Kalaupun nama penulis disebutkan, menurut dia, biasanya ditulis dengan nada-nada merendah. Seperti menulis hamba orang fakir, bodoh, tidak mengerti sastra dan bahasa-bahasa merendah lainnya.

Baca juga: Mengupas Sejarah Kain di Indonesia

Sikap tawadhu semacam itu tampaknya sudah menjadi bagian dari etika penulisan pada masa lalu. Seperti penulis naskah Kitab Merad (koleksi Keraton Kacirebonan), sang penulis mengaku dirinya sebagai orang yang tidak berakhlak. Kemudian penulis naskah Tarekat Syattariah Muhammadiah, mengaku dirinya orang bodoh dan miskin.

"Kerendahan hati seorang penulis karena suatu keniscayaan bahwa apa yang ditulisnya tidak lebih dari hasil menyalin atau mengubah dari suatu teks lain yang sudah tersedia, meskipun dalam praktiknya membutuhkan kemampuan besar serta ketelitian," jelas Nurhata.

Menurut dia, para penulis naskah di masa lalu menyadari bahwa karyanya bukan lagi milik pribadi. Karena yang dilakukannya hanya mengadaptasi suatu teks atau kitab ke dalam rangkaian aksara dan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat setempat.

Baca juga: Quran Pusaka Hadiah Perjuangan Muslim Mempertahankan Kemerdekaan

Dia juga menjelaskan bahwa naskah keagamaan yang ditemukan di Cirebon sebagian besar sudah diadaptasi untuk disesuaikan dengan konteks sosial yang ada. Para penulis atau penyalin naskah memahami betul konteks sosial budaya di Cirebon. Naskah-naskah keagamaan yang pada mulanya beraksara Arab dan bahasa Arab, diberi terjemahan bahasa Jawa dengan aksara Jawa dan Pegon. Tapi kebanyakan naskah tidak memuat informasi penanggalan atau waktu penulisan.

Baca juga: Kemelut Perebutan Kota Pelabuhan di Masa Kesultanan Aceh

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image