Profil Rahmat Shigeru Ono Si Pejuang Kemerdekaan RI dari Jepang

Sejarah  
Profil Rahmat Shigeru Ono, bekas tentara Jepang yang berbalik memihak Indonesia. Buku <i>Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik<i> karya Eiichi Hayashi. (istimewa)
Profil Rahmat Shigeru Ono, bekas tentara Jepang yang berbalik memihak Indonesia. Buku Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik karya Eiichi Hayashi. (istimewa)

Ada cerita menarik dalam perjalan sejarah Indonesia di masa lampau. Salah satunya tentang kisah tentara militer Jepang yang berpihak ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Rahmat Shigeru Ono merupakan salah satu mantan tentara Jepang yang lebih memilih menetap di Indonesia. Ia hidup dengan keluarga barunya sampai menutup usia setelah peringatan HUT Kemerdekaan RI 2014 lalu. Selain faktor usia, dia juga menderita beberapa penyakit yang akhirnya merenggut hidupnya.

Eiichi Hayashi dalam Memoar Rahmat Shigeru Ono: Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik mengungkapkan, Rahmat Shigeru Ono tercatat lahir Furano, Hokkaido, Jepang pada 26 September 1919 dengan nama lahir Sakari Uno. Ia lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang berprofesi sebagai petani. Anak terakhir dari lima saudara tersebut diterima menjadi prajurit Jepang pada 1939.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Shigeru tiba di salah satu wilayah Jawa bagian Barat sekitar 1942. Dia dipercaya menjadi kepala pasukan kecil di bawah Batalyon 153 yang bertugas menjaga ketentraman daerah. Waktu itu, Shigeru bertugas di daerah Cilacap, dekat sebuah penjara (Nusakambangan).

Pada masa awal kedatangannya, Shigeru menilai, masyarakat Indonesia sangat ramah. Pasalnya, rakyat setempat menerima kehadiran para tentara Jepang dengan sangat baik. Tak jarang, Shigeru dan para tentara acap mendapatkan makanan berupa kelapa muda dari masyarakat setempat.

Tentara Jepang saat menjajah Indonesia. (istimewa)
Tentara Jepang saat menjajah Indonesia. (istimewa)

Saat masa awal pendudukan Jepang, tak ada perang yang terjadi di Indonesia. Situasi ini mengakibatkan beberapa tentara Jepang bosan lalu mencari hiburan dengan mengonsumsi minuman keras sampai bermain perempuan. Berbeda dengan lainnya, Shigeru mengklaim lebih memilih belajar dan bekerja.

Selama beberapa tahun di Indonesia, Shigeru telah beberapa kali dipindahtugaskan ke beberapa daerah. Berbagai peristiwa sudah dia saksikan bersama para tentara Jepang lainnya. Lalu tiba di masa Jepang berhasil dikalahkan oleh tentara sekutu yang memunculkan upaya Indonesia untuk memerdekakan diri.

Setelah proklamasi kemerdekaan berkumandang, Shigeru menilai kondisi Indonesia malah semakin kacau. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh tentara Jepang tapi juga pemuda Indonesia. Kekacauan dan kerusuhan terjadi di mana-mana dan sangat jelas melibatkan keduanya.

Kekacauan semakin besar ketika sekutu mulai berdatangan ke Indonesia setelah Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya. Sejumlah pasukan khusus diturunkan dengan tujuan melucuti para serdadu Jepang. Kemudian berusaha mengembalikan para pasukan Jepang kembali ke negara asalnya.

Keadaan semakin parah ketika Belanda berusaha untuk menjajah kembali Indonesia. Untuk menghadapi masalah tersebut, pemerintah Indonesia mulai mengumpulkan bekas tentara Jepang. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan mereka ke negara asalnya dengan selamat.

Namun nyatanya terdapat sebuah kelompok kecil terlupakan dalam sejarah. Mereka adalah para bekas tentara Jepang yang tidak kembali ke negeri asal mereka. Para tentara tersebut memilih menetap di Indonesia menjadi pejuang di negara baru mereka.

Shigeru pun menjadi salah satu tentara Jepang yang lebih memilih menetap di Indonesia. Selain karena urusan keluarga dan tidak tersedianya pekerjaan layak di Jepang, dia juga merasa mempunyai utang janji dengan Indonesia. Jepang gagal mewujudkan janji kemerdekaan sehingga dia pun mendedikasikan hidupnya membantu NKRI.

Shigeru dan dua temannya memutuskan keluar dari tentara Jepang untuk bergabung di militer Indonesia. Tepat sehari sebelum memasuki 1946, Shigeru resmi menjadi anggota tentara Indonesia. Nama ketiganya diubah oleh pimpinan pasukan polisi militer di Bandung menjadi nama Indonesia.

Shigeru diberi nama Rahmat sedangkan temannya Tetsuo Katano diberi nama Karman. Lalu teman lainnya Shunichi Takigawa diberi nama Adam. Sejak saat itu Shigeru dan teman-temannya dipanggil dengan nama Indonesia sampai tutup usia.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image