Sejarah Ronde: Kuliner Bukan Asli Indonesia Melainkan dari Cina

Sejarah  
Kuliner hangat dan lezat, wedang ronde berasal dari Cina bukan asli Indonesia| Foto: Pinterest/Ade Susy
Kuliner hangat dan lezat, wedang ronde berasal dari Cina bukan asli Indonesia| Foto: Pinterest/Ade Susy

Mencicipi kuliner hangat saat malam hari bisa menjadi pilihan untuk menemani teman-teman Republika di mana pun berada. Salah satu kuliner popular yang biasanya dikonsumsi pada saat tersebut adalah wedang ronde. Kuah jahe disertai bola-bola dari tepung membuatnya semakin nikmat untuk dikonsumsi.

Teman-teman Republika apakah tahu asal usul kuliner ronde di Indonesia? Apakah kuliner tersebut asli dari Nusantara? Nyatanya, ronde ternyata bukan asli dari Indonesia.

Penggiat Jejak Jelajah Malang (JJM), Mochammad Antik mengatakan, minuman ini sudah ada sejak Dinasti Han, Cina. Berdasarkan legenda dari negeri ‘Tirai Bambu’, kuliner ini muncul antara 220 Sebelum Masehi (SM) sampai 220 Masehi.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Pada masa dinasti Han, terdapat sosok dayang kaisar bernama Yuanxiao. Suatu ketika, Yuanxiao ingin membuat camilan yang kini dikenal ronde sebagai ungkapan kerinduan pada keluarganya. Camilan itu kemudian dipersembahkan kepada kaisar dan dewa pada pertengahan bulan satu tahun Imlek.

Legenda tersebut menyebutkan, sang kaisar puas dengan olahan camilan Yuanxiao. Karena kepuasan ini, kaisar pun menjadikan Yuanxiao sebagai nama perayaan festival di tahun Imlek. "Di bulan itu Imlek selalu diadakan festival lampion atau yuanxiao," kata pria asli Malang ini.

Sebutan camilan ronde atau Yuanxiao di masa lalu terus berlanjut dari masa ke masa. Kepopulerannya memuncak saat memasuki masa Dinasti Song sekitar 920 sampai 1279 Masehi. Di masa ini, Antik mengungkapkan, ronde atau Yuanxiao selalu dijadikan sebagai camilan di Hari Raya Imlek.

Kuliner hangat dan lezat, wedang ronde berasal dari Cina bukan asli Indonesia| Foto: Pinterest/Sweety Honey
Kuliner hangat dan lezat, wedang ronde berasal dari Cina bukan asli Indonesia| Foto: Pinterest/Sweety Honey

Di masa lampau tepatnya di Cina, terdapat perbedaan penyebutan Yuanxiao yang merujuk pada ronde. Di Cina bagian utara saat Dinasti Ming berkuasa, ronde masih disebut sebagai Yuanxiao. Yuanxiao di sini secara harfiah berarti malam pertama atau merujuk pada bulan pertama setelah tahun baru Imlek. Kalau di utara masih disebut Yuanxiao, dan di selatan disebutnya tangyuan yang berarti bola bulat dalam sup.

Menurut Antik, perubahan penyebutan ini terjadi saat pemerintahan Yuan Shikai sekitar 1912 sampai 1916. Yuan Shikai sendiri merupakan tokoh politik dan pejabat militer Cina di masa Dinasti Qing. Saat itu, Yuan berambisi menjadi kaisar tapi impiannya tak tercapai sehingga mengalami kekecewaan yang amat besar.

Di saat merasa kecewa, istri Yuan ternyata tengah mengidam ronde yang ketika itu masih disebut Yuanxiao. "Saat meminta itu pada Yuan, istrinya malah digampar karena salah penyebutan. Karena yang didengar Yuan itu 'Yuan Xiao', itu berarti Yuan yang musnah atau lengser. Gara-gara ini, dia minta penyebutan Yuanxiao diganti menjadi tangyuan," jelas Antik.

Adapun masuknya ronde ke Nusantara, Antik menilai, ini bersamaan dengan datangnya migrasi masyarakat Cina. Situasi ini lebih tepatnya terjadi sekitar abad 15 sampai 16 di mana Kerajaan Majapahit sudah memasuki masa keruntuhannya. Di era ini, ronde masuk ke Nusantara bersamaan dengan kebudayan Cina lainnya yang tersebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Di dalam Serat Centhini, nama ronde ternyata tertulis pada pupuh 157 bait ke-16 sampai 20. Pada syair yang adegannya terjadi di salah satu pasar Mataram ini, ronde muncul bersamaan dengan kuliner lainnya. Di Pupuh itu dijelaskan ada pertunjukan wayang dan di antara banyak penjual makanan, ada yang menjual ronde.

Ronde juga muncul di pupuh 358 pada bait kesatu hingga 28 di Serat Centhini. Di bait tersebut disebutkan terdapat pesta pernikahan di wilayah Wanamarta (sekarang salah satu dusun di Probolinggo), Jawa Timur. Pada pesta tersebut tersedia berbagai makanan yang salah satunya ronde. Dan dari dua kejadian ini dapat disebutkan bahwa ronde muncul di dua adegan pada Serat Centhini di Mataram dan Wanamarta.

Serat Centhini sendiri menceritakan kisah perjalanan pasangan Syekh Amongraga dan Tambangraras. Kejadian yang ada dalam naskah tersebut terjadi sekitar 1630 di mana Sultan Agung Hanyakrakusuma berjaya di Kerajaan Mataram. Kisah perjalanan pasangan tersebut baru ditulis sekitaran 1814 yang kemudian masih dapat dibaca saat ini.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image