Sejarah Batu Bara Ditemukan Pertama Kali di Pengaron Wilayah Kalimantan

Sejarah  
Para pekerja di tambang batu bara Sawahlunto, Sumatera Barat. Potret ini menggambarkan perkembangan batu bara di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Foto: digitalcollections.universiteitleiden.nl.
Para pekerja di tambang batu bara Sawahlunto, Sumatera Barat. Potret ini menggambarkan perkembangan batu bara di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Foto: digitalcollections.universiteitleiden.nl.

Batu bara termasuk salah satu bahan bakar fosil yang banyak digunakan di berbagai negara termasuk Indonesia. Namun kira-kira teman-teman Republika sudah tahukah sejarah batu bara di Indonesia? Untuk menjawab hal tersebut, Robert Cribb dan Audrey Kahin mengungkapkannya dalam buku Kamus Sejarah Indonesia.

Menurut Robert Cribb dan Audrey Kahin, cadangan batu bara pertama kali ditemukan di Pengaron, Kalimantan. Pada 1848 Masehi dibuka sebuah tambang di daerah tersebut. “Tetapi tambang ini akhirnya gagal,” ucap Robert Cribb dan Audrey Kahin.

Dua tambang bara lainnya dibuka selama abad ke-19 di Kalimantan. Tambang batu bara ini dikembangkan oleh perusahaan swasta dan pemerintah kolonial Belanda.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Cadangan batu bara terbesar yang juga batu bara berkualitas terbaik di Nusantara ditemukan di Sumatera Barat pada 1868. Tak lama kemudian cadangan batu bara terbesar kedua ditemukan di Bukit Asam.

Berdasarkan catatan sejarah, tambang Ombilin di Sawahlunto di Sumatera Barat mulai produksi batu bara sebagai perusahaan negara pada 1892. Tempat ini mampu memproduksi batu bara lebih dari 200 ton pada 1924. Total produksi di Hindia Timur Belanda mencapai puncaknya pada 1930 dengan jumlah mendekati 1,9 juta ton.

Pada masa penjajahan Jepang, anak perusahaan Mitsui Company diperbolehkan mengeksploitasi tambang batu bara di Ombilin dan Bukit Asam. Sejumlah pertambangan lainnya di Sumatera juga mengalami hal serupa oleh perusahan swasta Jepan yang lain. Pada masa akhir pendudukan Jepang, produksi batu bara di tempat tersebut menurun karena perusahaan-perusahaan tambang dipaksa untuk terlibat dalam perang.

Berlanjut pada masa kemerdekaan Indonesia, saat itu keuangan negara sedang memburuk sehingga menghambat rehabilitas perusahaan tambang. Di samping itu, batu bara harus bersaing dengan minyak sebagai sumber energi. Sebab itu, hingga 1962 produksi batu bara jatuh sekitar kurang dari 500 ribu ton.

Pada masa orde baru, pengembangan tambang batu bara diabaikan selama hampir 10 tahun. Perusahaan-perusahaan tambang Ombilin, Bukit Asam dan Mahakam dilebur menjadi perusahaan negara. Namun produksi batu barang terus menurun hingga kurang dari 200 ribu ton per tahun.

Sekitar 1970-an, Indonesia mengalami krisis minyak sehingga pemerintah mulai memperhatikan produksi batu bara. Pada akhir 1980an, produksi batu bara di Kalimantan Timur diperluas untuk ekspor dan mencapai produksi maksimalnya pada 1993 sampai 1994. Sekitar 1986 sampai 1990, produksi batu bara Indonesia akhirnya kembali naik dari 2 juta ton menjadi 11,2 juta dan 42 persen di antaranya diekspor.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image